ANCAMAN LIBERALISME, SALAFY-WAHABI, SEKULARISME TERHADAP EKSISTENSI AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Islam datang sebagai rahmat alam semesta, sebagai agama yang sempurna Islam tidak hanya berkutat dalam dunia transenden yang sarat dengan nuansa eskatologis sehingga sama sekali tidak bersentuhan dengan wilayah profan, atau dalam kata lain hanya berkaitan dengan apa yang disebut wilayah vertikal. Namun Islam tampil dengan syari’at yang komprehensif yang mencakup semua sendi kehidupan manusia baik yang berhubungan dengan dunia maupun akhirat. Islam mampu menghasilkan perubahan total dalam setiap lini kehidupan, perubahan-perubahan tersebut dimulai dari perubahan ideologi, pola pikir dan perubahan gaya hidup hingga terwujudnya syari’at sebagai aspek hukum. Penerapan syari’at mutlak dibutuhkan untuk mengatur kehidupan manusia, Eksistensinya yang selalu relevan sepanjang zaman mampu untuk menjawab masalah-masalah kekinian dan juga untuk membentengi diri dari rongrongan aliran-aliran sesat yang tidak sesuai dengan faham Ahlussunnah Wal jama’ah.
بسم الله الرّحمن الرّحيم
MUQADDIMAH
Islam datang sebagai rahmat alam semesta, sebagai agama yang sempurna Islam tidak hanya berkutat dalam dunia transenden yang sarat dengan nuansa eskatologis sehingga sama sekali tidak bersentuhan dengan wilayah profan, atau dalam kata lain hanya berkaitan dengan apa yang disebut wilayah vertikal. Namun Islam tampil dengan syari’at yang komprehensif yang mencakup semua sendi kehidupan manusia baik yang berhubungan dengan dunia maupun akhirat. Islam mampu menghasilkan perubahan total dalam setiap lini kehidupan, perubahan-perubahan tersebut dimulai dari perubahan ideologi, pola pikir dan perubahan gaya hidup hingga terwujudnya syari’at sebagai aspek hukum. Penerapan syari’at mutlak dibutuhkan untuk mengatur kehidupan manusia, Eksistensinya yang selalu relevan sepanjang zaman mampu untuk menjawab masalah-masalah kekinian dan juga untuk membentengi diri dari rongrongan aliran-aliran sesat yang tidak sesuai dengan faham Ahlussunnah Wal jama’ah.
Beredarnya buku “Mantan kyai NU menggugat Tahlilan, Istighotsah dan Ziarah para Wali” karya H. Mahrus Ali dan juga munculnya tuduhan terhadap kaum Nahdliyin yang disampaikan oleh satu kelompok dari salah satu partai besar (PKS) yang mengusung faham Wahabiyyah. Mereka menuduh bahwa kaum Nahdliyyin sebagai penganut ajaran kafir, syirik dan bid’ah.
Mereka menghimbau kepada seluruh anggotanya untuk bersama-sama memberantas kekafiran yang berbau syirik yang selama ini berkembang dan menjadi amalan dikalangan Nahdhiyyin. Tentu saja keberadaannya menimbulkan keresahan dan menuai reaksi beragam dari masyarakat. Ada yang tidak percaya dan semakin memperkokoh ajaran Ahlussunnah Wal jama’ah dan ada juga yang menimbulkan keragu-raguan sehingga akan berpindah pada ajaran lainnya.[1]
[1] Surat himbauan DPD PKS Bogor, 22 April 2007
LIBERALISME
Faham liberal adalah faham yang memahami nash-nash agama (Al-Quran dan As-Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.[1]
[1] Fatwa Munas VII Majlis Ulama Indonesia

Secara sistematis, Liberalisasi Islam di Indonesia yang sudah dijalankan sejak awal tahun 1970-an, dilakukan serempak melalui tiga bidang penting dalam sejarah Islam, yaitu:
– Liberalisasi bidang Aqidah dengan penyebaran faham pluralisme agama.
– Liberalisasi konsep Wahyu dengan melakukan dekonstruksi Al-Quran.
– Liberalisasi bidang Syari’ah dengan melakukan metodologi baru ijtihad.
LIBERALISASI AQIDAH ISLAM
Liberalisasi aqidah Islam dilakukan dengan menyebarkan faham pluralisme agama. Faham ini, pada dasarnya menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi menurut penganut faham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda menuju Tuhan yang sama. Atau mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga -karena kerelatifannya- maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya sendiri yang paling benar.
Di Indonesia penyebaran faham ini sudah sangat meluas, sangat massif dilakukan oleh para tokoh, cendekiawan, akademisi dan para pengasong ide-ide liberal.
Ulil Abshar Abdalla mengatakan: “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar”.[1] Ulil juga menulis, “Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Maha Benar. Semua agama, dengan demikian adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan relegiutas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama; yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya”.[2]
[1] Majalah GATRA, 21 Desember 2002
[2] Kompas 18 November 2002, dalam artikelnya berjudul, “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”.

Ide ngawur Ulil tentang agama ini berimbas pada masalah hukum perkawinan antar agama, do’a bersama, waris beda agama yang akhirnya ditegaskan kembali keharamannya oleh fatwa MUI. Dalam artikelnya di Kompas, 18-11-2002 tersebut, Ulil juga menyatakan; “larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi”.
Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan, Dosen UIN Yogyakarta menulis; “Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga adalah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama. Dari sini kerjasama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.”
Prof. Dr. Nurcholish Madjid, menyatakan bahwa ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil. Yaitu; Pertama, sikap eksklusif dalam melihat agama lain (agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya). Kedua, sikap inklusif (agama-agama lain adalah bentuk implisit agama kita). Ketiga, sikap pluralis-yang bisa terekspresi dalam macam-macam rumusan, misalnya; “agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama”, “agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenaran-kebenaran yang sama sah”, atau “setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran”.
Lalu, tulis Nurcholish lagi, “Sebagai sebuah pandangan ke-agamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirnya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antar agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama. Filsafat perenial juga membagi agama pada level esoterik (batin) dan eksoterik (lahir). Satu agama berbeda dengan agama lain dalam level eksoterik. Oleh karena itu ada istilah “Satu Tuhan Banyak Jalan”.
Nurcholish Madjid juga menulis: “Jadi, Pluralisme sesungguhnya adalah sebuah Aturan Tuhan (Sunnah Allah, “Sunnatullah”) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari”.
Dr. Alwi Shihab menulis: “Prinsip lain yang digariskan oleh al-Qur’an adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama, dan dengan begitu layak memperoleh pahala dari Tuhan. Lagi-lagi prinsip ini memperkokoh ide mengenai Pluralisme keagamaan dan menolak eksklusifisme. Dalam pengertian lain, eksklusifisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat al-Qur’an. Sebab al-Qur’an tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya.”
Abdul Muqsith Gozaly, menulis dalam disertasinya di UIN Jakarta: “Jika diperhatikan dengan seksama, maka jelas bahwa dalam ayat :
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah : 62)
itu tak ada ungkapan agar orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad. Dengan mengikuti bunyi harfiyah ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang tetap dalam keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal shaleh -sekalipun tak beriman kepada Nabi Muhammad- maka mereka akan memperoleh balasan dari Allah. Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani dan Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para mufassir dan bukan ungkapan al-Qur’an. Muhammad Rasyid Ridla berkata, “Tak ada persyaratan bagi orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah untuk beriman kepada Nabi Muhammad”.
Kesimpulan disertasi seperti itu sangat aneh. Apalagi kalangan Liberal sering sekali mengutip pendapat Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar. Padahal, jika ditelaah dengan seksama pendapa Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar, maka akan ditemukan bahwa pada surat Al-Baqoroh ayat 62 dan Al Maidah 69, adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang risalah Nabi Muhammad SAW tidak sampai kepada mereka. Kerena itu, mereka tidak diwajibkan beriman kepada Nabi Muhammad SAW. sedangkan bagi Ahlul Kitab yang da’wah Islam sampai kepada mereka diantaranya:
1). Beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan kebaikan.
2). Beriman kepada al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
Karena itu, sangat disayangkan, sebagaimanan perilaku sejumlah kaum pluralis agama, penulis disertasi ini pun tidak benar dan tidak fair dalam mengutip pendapat-pendapat Rasyid Ridla. Padahal, dalam soal ini, Nabi Muhammad saw sudah menegaskan:
عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه قال: وَالَّذِيْ نَفْسِيْ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.
“Demi Allah yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seorangpun dari umat sekarang ini, baik Yahudi maupun Nashrani, kemudian mereka tidak mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.” (HR. Muslim)[1]
[1] Tantangan Da’wah Kontemporer, Liberalisme Islam di Indonesia

Fenomena do’a bersama, antara ummat Islam dan non-Islam, baik dalam acara-acara resmi kenegaraan maupun kemasyarakatan akhir-akhir ini marak terjadi dikalangan ummat Islam, dengan dalih kerukunan umat beragama,ukhuwah Basyariyah, Ukhuwah Wathoniyah, demi untuk keselamatan bangsa dan negara. Strategi ini memang sengaja diterapkan oleh orang-orang kafir untuk memperlihatkan kesungguhannya untuk hidup rukun. Rencana besar (grand design) dibalik itu semua adalah ummat Islam bersedia menghadiri acara-acara keagamaan mereka, sehingga umat Islam akan timbul keragu-raguan terhadap ajaran agamanya sendiri, dan akhirnya menjadi murtad dengan sendirinya.
Faham Pluralisme ini memberi pemahaman bahwa pada dasarnya semua agama adalah sama. Sama-sama mengajak kebaikan dan melarang kejahatan. Jadi agama tidak hanya Islam yang benar, Yahudi-Nashrani dan keyakinan-keyakinan lainnya semua dianggap benar dan semua bisa masuk surga.
Islam menjamin hak beragama. (agama samawi yang memiliki kitab suci) seperti yang tersebut dalam surat Al Baqoroh 256, Laa ikroha fiddin. Tapi toleran seperti itu sebatas pengakuan keberagaman orang lain, tidak sampai pada keyakinan bahwa semua pengikut agama sama-sama menuju kebenaran. Kalau demikian, lalu apa gunanya seseorang memilih dan meyakini diantara sekian agama? Kalau teori ini diteruskan, maka bisa dipraktikan sehari islam, lain hari budha misalnya, dan ini tidak masalah,karena semuanya benar, padahal itu merupakan toleransi intern yang mustahil terjadi,sebab menimbulkan kemurtadan.
Jadi fanatisme agama adalah naluri manusia yang tidak bisa dipungkiri,sebab ketika kita sudah masuk suatu agama, pasti yakin inilah yang benar, dan yang lain bathil. Seperti nabi Ibrahim AS ketika mencari tuhannya, pertama dia menganggap bintang sebagai tuhannya, lalu bulan dan matahari, karena benda-benda inilah yang menerangi alam semesta. Namun setelah semuanya tenggelam, beliau diberi petunjuk Allah bahwa tuhannya adalah pencipta langit dan bumi, bukan yang disembah kaumnya.allah mengabaqdikannya dalam surat Al An’am 74-82. pengakuan nabi Ibrahim pada ayat 79:[1]
[1] M. Sudarto, Ancaman dan Bahaya Islam Liberal

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“sesungguhnya aku menghadapkan diriku pada tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukan temasuk orang-orang yang mempersatukan tuhan” (QS. Al An’am : 79)
Ironisnya, banyak dari tokoh-tokoh Islam, yang terjebak dan menjadi agen murahan serta menjadi antek-antek kaum imperalis dalam menyebarkan faham ini.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus-Dur), tokoh NU, yang pernah menjadi presiden Republik Indonesia 1999-2001, yang diturunkan paksa oleh MPR pimpinan Amin Rais, karena kasus Bulog, juga pernah melontarkan omongan bahwa lafadz “Assalamu’alaikum” bisa diganti dengan ucapan selamat pagi, itu berkata:
“bagi saya, peringatan natal (cristmas) adalah peringatan kaum muslimin juga, kalau kita konsekwensi sebagai seorang muslim merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW juga harus konsekwensi merayakan malam natal”.[1]
[1] Hartono Ahmad Jaiz, Menangkal Bahaya JIL & FLA

KH. Hasyim Muzadi, Ketua PBNU, hadir pada acara do’a bersama di Surabaya, pada hari senin tanggal 17 Agustus 1998, bertepatan dengan HUT RI ke 53, dari Kristen ada pendeta Wismo, Romo Kurdo (Katolik) Parisada Hindu Indonesia (Hindu) dan Bingki Irawan (Khong Hucu).[1]
[1] KH. Lutfi Bashori, Musuh Besar Ummat Islam

KH. Said Aqil Siradj, Fungsionaris PBNU, tanpa canggung berkhotbah dalam acara misa Kristiani disebuah gereja di Surabaya. Dengan background belakangnya salib patung Yesus dalam ukuran yang cukup besar. Beritanya pun dimuat majalah aula milik warga NU, dia juga pernah melontarkan gagasan liberalnya yaitu merencanakan pembangunan gedung bertingkat, dengan komposisi lantai dasar akan diperuntukkan sebagai masjid bagi umat Islam, sedangkan lantai tingkat satu diperuntukkan sebagai gereja bagi umat kristiani, lantai tingkat dua diperuntukkan sebagai pure bagi penganut hindu, demikian dan seterusnya[1].
[1] KH. Lutfi Bashori, Konsep NU & Krisis Penegakan Syari’at

Ahmad Noer Kholis, 27 tahun Muslim, lahir di Tawangharjo, Grobogan Jawa Tengah pada 7 Nopember 1974, menikahi seorang wanita Khong Hucu bernama Ang Mei Yong 24 tahun diyayasan Paramadina pimpinan Dr. Noer Kholis Majid. Acara dimulai jam 09.30 Wib, ketika Ahmad Noer Kholis memakai jas warna hitam menggandeng gadis idamanya Ang Mei Yong yang bergaun pengantin warna putih. Mereka memasuki ruangan ruangan di Islamic Study Center Paramadina dikomplek Pondoh Indah Plaza, Jalan Tb. Simatupang Jakarta Selatan. Sekitar 50 orang hadir dalam acara tersebut. Diantara mereka tampak Ulil Abshar Abdalla, bose Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Budi S Tanuwibowo, ketua Umum Majlis Tinggi Agama Khong Hucu Indonesia (Matakin). Ang Lin Gie, 66 tahun, ayah Mei dengan alasan tidak lancar berbahasa Indonesia mewakilkan kepada Dr. Kautsar Azhari Noer, dosen Tassawuf di UIN dan beberapa perguruan tinggi lainnya, serta pengajar di Paramadina., Sebagai wali sekaligus menikahkan mempelai secara Islam. Pernikahan pun berlangsung dengan mas kawin 8,8 gram dibayar tunai. Usai acara, mereka meluncur ke sekretariat Matakin di kompleks Royal Sunter Blok F -23 jalan danau Sunter, Jakarta Utara.[1]
[1] Hartono Ahmad Jaiz, Menangkal Bahaya JIL & FLA

Islam tidak memperbenarkan pencampuradukan dalam urusan ibadah antara pemeluknya dengan orang-orang kafir. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam surat Al Kafirun, sebab turunnya ayat tersebut, disaat orang-orang kafir mengajak Rasulullah SAW untuk bersama-sama menyembah Allah disatu waktu, dan menyembah tuhan-tuhan mereka diwaktu yang lain secara bergantian. Perkawinan beda agama ini jelas telah menyimpang dari ajaran Islam dan merusak tatanan perkawinan yang ada di Republik ini. Perusakan aqidah Islam atas nama pluralisme dan kerukunan.[1]
[1] KH. Lutfi Bashori, Musuh Besar Ummat Islam

Satu hal yang wajib diketahui oleh umat Islam, khususnya kalangan lembaga pendidikan Islam adalah bahwa hampir seluruh LSM dan proyek yang dibiayai oleh LSM-LSM Barat, seperti The Asia Foundation, Ford Foundation, Tifa adalah mereka-mereka yang bergerak dalam penyebaran faham pluralisme agama. Itu misalnya bisa dilihat dalam artikel-artikel yang diterbitkan oleh Jurnal Tashwirul Afkar (diterbitkan oleh Lakpesdam NU dan The Asia Foundation), dan Jurnal Tanwir (diterbitkan oleh pusat studi agama dan peradaban Muhammadiyah -PSAP dan The Asia Foundation). Mereka bukan saja menyebarkan faham ini secara asongan, tetapi memiliki program yang sistematis untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang saat ini masih mereka anggap belum inklusif pluralis. Pluralisme mesti merajai pikiran umat Islam Indonesia.
Sebagai contoh, Jurnal Tashwirul Afkar edisi No.11 tahun 2001, menampilkan laporan utama berjudul “Menuju Pendidikan Islam Pluralis”. Di tulis dalam Jurnal ini: “Filosofi pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri, tanpa mau menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep Iman-kafir, Muslim-non Muslim, dan baik-benar (truth claim), yang sangat berpengaruh terhadap cara pandang Islam terhadap agama lain, mesti dibongkar agar umat Islam tidak lagi mengaggap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan. Jika cara pandangnya bersifat eksklusif dan intoleran, maka teologi yang diterima adalah teologi eksklusif dan intoleran, yang pada gilirannya akan merusak harmonisasi agama-agama, dan sikap tidak menghargai kebenaran agama lain. Kegagalan dalam mengembangkan semangat toleransi dan pluralisme agama dalam pendidikan Islam akan membangkitkan sayap radikalisme Islam.”
Salah satu istilah yang juga sedang dikembangkan dalam pendidikan Islam adalah istilah “Multikulturalisme”. Pada 11 Desember 2007, Badan Litbang Departemen Agama mengumumkan hasil penelitiannya tentang “Pemahaman Nilai-nilai Multikultural para Da’i”. Paham ini kini dijejalkan ke masyarakat Muslim Indonesia dengan alasan bahwa paham ini dapat mereduksi konflik antar umat beragama. Oleh penelitian ini, soal konflik tersebut dijelaskan sebagai berikut:
“Konflik ini salah satunya disebabkan oleh adanya pemahaman keberagaman masyarakat yang masih eksklusif. Pemahaman ini dapat membentuk pribadi yang antipati terhadap pemeluk agama lain. Pribadi yang selalu merasa hanya agama dan alirannya saja yang paling benar, sedangkan agama dan aliran lainnya adalah salah dan dianggap sesat.”
Faham Multikulturalisme kini sangat gencar disebarkan ke tengah kaum Muslim melalui berbagai LSM di Indonesia, sampai ke pelosok-pelosok pesantren, seperti yang dilakukan oleh lembaga International Center of Islam and Pluralism (ICIP), yang mengkhususkan diri ‘menggarap’ pondok-pondok pesantren, khususnya di wilayah Jawa Barat. Lebih dari itu, juga sudah mulai dilakukan proyek-proyek Pendidikan Agama yang berwawasan Multikultural. Misalnya, dalam pengantarnya pada sebuah buku berjudul “Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural” (2005), Prof. Azyumardi Azra menekankan pentingnya dikembangkan jenis pendidikan agama semacam ini. Padahal, dalam buku ini jelas jelas ada gagasan untuk membangun persaudaraan universal tanpa membedakan lagi faktor agama. Misalnya dia menulis:
“Sebagai risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia, termasuk mereka para pengikut agama-agama menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankid) tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan, dan agam. Pesan kesatuan ini tegas disinyalir al-Qur’an: “Katakanlah, wahai semua penganut agama (dan kebudayaan), bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural (kalimatun sawa) antara kami dan kami.” Dengan demikian kalimatu sawa’ bukan hanya mengakui pluralitas kehidupan, ia adalah sebentuk manifesto dan gerakan yang mendorong kemajemukan (pluralisme) dan keragaman (diversity) sebagai prinsip inti kehidupan dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultural diperlakukan setara (equality) dan sama martabatnya (dignity).”
Bagi yang memahami tafsir al-Qur’an, pemaknaan terhadap Surat Ali Imron Ayat 64 tentang Kalimatun Sawa’ semacam itu tentulah aneh. Sebab, ayat itu sendiri sangat jelas maknanya, yakni mengajak kaum Ahlul Kitab untuk kembali kepada ajaran Tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64)
“Katakanlah..! Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah.” (QS. Ali Imron : 64)
Jadi, ayat tersebut jelas-jelas seruan kepada Tauhid, bukan kepada faham multikulturalisme. Tapi, itulah faktanya, karena menjadikan paham multikulturalisme sebagai dasar keimanannya, maka tauhid pun dimaknai secara keliru, ngawur dan diselewengkan maknanya. Padahal, Tauhid jelas berlawanan dengan syirik. Musuh utama tauhid adalah syirik. Karena itu, Allah sangat murka dengan tindakan syirik, dan disebut sebagai “kedzaliman yang besar (zhulmun ‘azhim), Allah pun sangat murka karena dituduh mempunyai anak.
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91)
“Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu Telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, Hampir-hampir langit pecah Karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, Karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam : 88 – 91)
Tetapi, dalam faham multikulturalisme sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, justru keyakinan akan kebenaran agamanya sendiri dilarang: “Klaim berlebihan tentang kebenaran absolut kelompok keagamaan sendiri, dan klaim kesesatan kelompok-kelompok agama lain, bisa membangkitkan sentimen permusuhan antar umat beragama dan antar kelompok. Penulis buku yang juga dosen sebuah kampus Islam di Surakarta Jawa Tengah ini juga sangat berani dalam mengubah makna “taqwa” dalam Ayat:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al Hujuraat : 13)
Kaum Muslim memahami bahwa makna “taqwa” adalah taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya tapi oleh penganut paham multikulturlisme, ‘taqwa’ diartikan sebagai ‘yang paling dapat memahami dan menghargai perbedaan pendapat’. Dia terjemahkan ayat tersebut sebagai berikut: “Hai manusia, sesungguhnya Kami jadikan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berkelompok-kelompok dan berbangsa-bangsa agar kalian saling memahami dan saling menghargai. Sesungguhnya orang yang paling bermartabat di sisi Allah adalah mereka yang paling dapat memahami dan menghargai perbedaan di antara kamu.”
Dalam pandangan Islam, faham Pluralisme Agama jelas-jelas merupakan faham syirik modern, karena menganggap semua agama adalah benar. Padahal, Allah swt telah menegaskan bahwa hanya Islam agama yang benar dan diterima Allah swt ,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ (19)
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imron : 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85)
“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron : 85)
Dosa syirik merupakan dosa besar, kezaliman besar, dan Allah sangat murka jika diserikatkan dengan yang lain. Allah, misalnya sangat murka karena dituduh punya anak.
Keyakinan akan kebenaran ad-Dinnul Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridlai Allah, adalah konsep yang sangat mendasar dalam Islam. Karena itu, para cendekiawan dan Ulama’ perlu menjadikan penanggulangan paham syirik modern ini sebagai perjuangan utama, agar jangan sampai 10 tahun lagi paham ini menguasai wacana pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia, sehingga akan lahir dosen-dosen, guru-guru agama, khatib, atau kyai yang mengajarkan paham persamaan agama ini kepada anak didik, kaum muda dan masyarakat.[1]
[1] Tantangan Da’wah Kontemporer, Liberalisme Islam di Indonesia

LIBERALISASI Al-QUR’AN
Salah satu wacana yang berkembang pesat dalam tema Liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tema “Dekonstruksi Kitab Suci”. Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini sudah berkembang pesat. Kajian “Biblical Criticism”, tentang kritik Bible dan kritik teks Bible telah berkembang pesat di Barat. Dr. Ernest C. dari School of Theology Claremont, misalnya, salama 30 tahun menekuni studi ini dan menulis satu buku berjudul “Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testatement.”
Pesatnya studi kritis Bible itu telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk ‘melirik’ al-Qur’an dan mengarahkan hal yang sama terhadap al-Qur’an. Pada tahun 1997, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas yang ada di Inggris, mengumumkan bahwa “sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.”
Hampir satu abad lalu, para orientalis dalam bidang studi al-Qur’an bekerja keras untuk menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah kitab bermasalah sebagaimana Bible. Mereka tidak pernah berhasil. Tapi, anehnya, kini imbauan itu sudah diikuti begitu banyak manusia dari kalangan Muslim sendiri, termasuk yang ada di Indonesia. Sesuai paham pluralisme agama, maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar, sederajat, tidak boleh ada yang mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling benar sendiri. Tidak boleh ada kelompok agama yang mengklaim hanya kitab sucinya saja yang suci.
Maka, proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian al-Qur’an. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang suci, bebas dari kesalahan. Mereka mengabaikan bukti-bukti al-Qur’an yang menjelaskan tentang otentisitas al-Qur’an, dan kekeliruan dari kitab-kitab agama lain. Ulil Abshar Abdalla, mantan bos Jaringan Islam Liberal menulis di Harian Jawa Pos, 11 Januari 2004: “Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat.”
Salah satu program sekularisasi adalah upaya desakralisasi, termasuk dalam upaya desakralisasi al-Qur’an. Kaum liberal ini menyatakan, bahwa al-Qur’an bukan kitab suci. Majalah GATRA edisi 1-7 Juni 2006 memberitakan, bahwa pada tanggal 5 Mei 2006, Sulhawi Ruba, 51 tahun, dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, IAIN Sunan Ampel di hadapan 20 mahasiswa Fakultas Dakwah, menerangkan posisi al-Qur’an sebagai hasil budaya manusia. “Sebagai budaya, posisi al-Qur’an tidak berbeda dengan rumput,” ujarnya. Ia lalu menuliskan lafadz Allah pada secarik kertas sebesar telapak tangan dan menginjaknya dengan sepatu. “al-Qur’an dipandang sakral secara substansi, tapi tulisannya tidak sakral,” katanya setengah berteriak.
Taufik Adnan Kamal, dosen Ulumul Qur’an di IAIN Makasar, menulis satu makalah berjudul Edisi Kritis al-Qur’an, yang isinya menyatakan ‘uraian dalam paragraf-paragraf berikut mencoba mengungkapkan secara ringkas proses pemantapan teks dan bacaan al-Qur’an, sembari menegaskan bahwa proses tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Karena itu, tulisan ini juga akan menggagas bagaimana menyelesaikan itu lewat suatu upaya penyuntingan Edisi Kritis al-Qur’an.
Taufik berusaha meyakinkan, bahwa al-Qur’an saat ini masih bermasalah, tidak kritis, sehingga perlu diedit lagi. Dosen itu pun menulis sebuah buku serius berjudul Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an yang juga meragukan keabsahan dan kesempurnaan Mushaf Utsmani.
Aktivis Islam Liberal, Dr. Luthfi Assyaukanie juga berusaha membongkar konsep dasar Islam tentang al-Qur’an:
“Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa al-Qur’an dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa al-Qur’an yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para Ulama sebagai bagian dari formulasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan al-Qur’an sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa.”
Jadi, di berbagai penerbitan mereka, kalangan liberal dan gengnya memang sangat aktif dalam menyerang al-Qur’an, secara terang-terangan. Mereka sedang tidak sekedar berwacana, tetapi aktif menyebarkan pemikiran yang merusak terhadap al-Qur’an. Itu bisa dilihat dalam buku-buku, artikel, dan jurnal yang mereka terbitkan. Sebagi contoh, Jurnal Justisia Fakultas Syariah edisi 23 th. XI, 2003, memuat tulisan yang secara terang-terangan menyerang al-Qur’an dan sahabat Nabi Muhammad saw:
“Dalam studi kritik al-Qur’an, pertama kali yang perlu dilakukan adalah kritik historisitas al-Qur’an. Bahwa al-Qur’an kini sudah berupa teks yang ketika hadir bukan bebas nilai dan tanpa konteks. Justru konteks Arab 14 abad silam telah mengkonstruk al-Qur’an. Adalah Muhammad saw, seorang figur yang saleh dan berhasil mentranformasikan nalar kritisnya dalam berdialetika dengan realitas Arab. Namun, setelah Muhammad wafat, generasi pasca Muhammad terlihat tidak kreatif. Jangankan meniru kritisisme dan kreativitas Muhammad dalam memper-juangkan perubahan realitas zamannya, generasi pasca Muhammad tampak kerdil dan hanya membebek pada apa saja yang asalkan dikonstruk Muhammad. Dari sekian banyak daftar yang peling mencelakakan adalah pembukuan al-Qur’an dengan dialek Quraisy, oleh Khalifah Utsman bin Affan yang diikuti dengan klaim otoritas mushafnya sebagai mushaf terabsah dan membakar (menghilangkan pengaruh) mushaf-mushaf milik sahabat lain. Imbas dari sikap Utsman yang tidak kreatif ini adalah terjadinya militerisme nalar Islam untuk tunduk/ mensakralkan al-Qur’an produk Quraisy. Karenanya, wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan al-Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, malalui Utsman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab dan Islam. Hegemoni ini tampak jelas terpusat pada ranah kekuasaan, agama dan budaya. Dan hanya orang yang mensakralkan al-Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”
Di dalam Jurnal Justisia edisi ini, Sumanto al-qurtubi juga menulis sebuah artikel berjudul: Kesucian Palsu Sebuah Kitab. Maksudnya al-Qur’an bukan kitab suci, tetapi kitab suci yang palsu. Penyerangan terhadap al-Qur’an di lingkungan perguruan tinggi Islam merupakan hal yang sangat menyedihkan dan tragis. Dulu, beratus-ratus tahun, wacana itu hanya berkembang di lingkungan orientalis Yahudi dan Kristen. Tetapi, saat ini suara-suara yang menghujat al-Qur’an justru lahir dari lingkungan perguruan tinggi Islam, IAIN-IAIN yang hanya menjiplak dan mengulang-ulang lagu lama yang beratus-ratus tahun disuarakan para orientalis. Tentu, masalah ini tidak bisa dianggap sepele, sebab akan menjadi peluru gratis bagi kalangan orientalis untuk menyerang Islam. Mereka sekarang tinggal ‘ongkang-ongkang kaki’ (istirahat) dan menyaksikan kader-kadernya dari kalangan umat Islam sendiri yang aktif menyerang al-Qur’an. Bahkan, kadang dilakukan dengan bahasa-bahasa yang lebih vulgar dan lebih biadab dari para orientalis.
Cara yang lebih halus dan tampak akademis dalam menyerang al-Qur’an juga dilakukan dengan mengembangkan studi kritik al-Qur’an dan studi hermeneutika di Perguruan Tinggi Islam. Diantara tokoh-tokoh terkenal dalam studi ini adalah Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd dan Muhammed Arkoun. Buku-buku kedua tokoh ini sudah banyak diterjemahkan di Indonesia. Bahkan Nasr Hamid yang terkenal dengan teorinya ‘al-Qur’an merupakan produk budaya Arab (Manhaj Tsaqafi)’ sudah memiliki sejumlah murid yang kini mengajar di sejumlah perguruan tinggi Islam di Indonesia. Salah satu murid yang dibanggakannya adalah Dr. Nur Kholish Setiawan, yang baru saja menerbitkan disertasinya dengan judul “al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar”. Buku Arkoun, Rethinking Islam, bahkan dijadikan buku rujukan utama dalam mata kuliah “Kajian Orientalisme terhadap al-Qur’an dan Hadits” di program Fafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta. Padahal, dalam buku ini, Arkoun secara terang-terangan menyesalkan mengapa para cendekiawan Muslim tidak mau mengikuti para orientalis Yahudi dan Kristen yang telah melakukan kritik terhadap Bible. Kemunculan tafsir Hermeneutika yaitu tafsir yang memakai metode Bible yang kemudian di kembangkan untuk menafsirkan dan menerangkan makna al-Qur’an dengan mengikuti metode kaum Yahudi-Nasrani dalam memahami Torah dan Gospel. Dalam memahami sebuah teks, Penganut Hermeneutika mengacu pada beberapa kriteria, diantaranya semua teks harus dianggap sama, semua adalah karya manusia, akibatnya akan sangat potensial pada pengingkaran al-Qur’an sebagai kalamullah. Keaslian al-Qur’an akan di ragukan dan kemutawatiran-Nya juga akan digugat. Kajian Hermeneutika sebagai metode tafsir pengganti ilmu tafsir klasik pun sudah menjadi mata kuliah wajib di program studi Tafsir Hadits UIN Jakarta dan sejumlah perguruan tinggi Islam lainnya. Padahal, metode ini jelas berbeda dengan ilmu tafsir dan bersifat dekonstruktif terhadap al-Qur’an dan syari’at Islam.” Kaum muda Islam dalam bahaya.[1]
[1] Tantangan Da’wah Kontemporer, Liberalisme Islam di Indonesia

Masdar Farid Mas’udy, seorang tokoh PBNU dan stafnya, Zuhairi Misrawi, alumni jurusan aqidah Filsafat Al Azhar, yang pernah mengatakan bahwa sholat tidak wajib, dua sosok nyleneh, aneh bin ajaib yang tergabung dalam tim sembilan penulis buku FLA (Fiqh Lintas Agama) pimpinan Norcholish Majid direktur Paramadina diancam mati oleh presiden PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia) di Mesir. Ancaman mati yang mengakibatkan batalnya acara “Pendidikan Islam Emansipatoris” yang akan Masdar selenggarakan untuk mahasiswa Indonesia di Mesir 7-8 Februari 2004. sebelum acara berlangsung, berita pun telah ramai di milis insit di Malaysia. Bahwa Masdar yang dikenal ingin mengubah waktu pelaksanaan ibadah haji agar ritual pokoknya jangan hanya dibulan Dzulhijjah tapi bisa kapan saja selama tiga bulan itu-telah bertandang ke Mesir untuk menggarap mahasiswa Indonesia. Ditengah kemelut persoalan haji, mulai ditanah air sampai pada tingkat pelaksanaannya ditanah suci, yang tak kunjung usai, khususnya setelah tragedy Mina terbaru (2004) yang menelan korban 244 orang, berbagai ide dilontarkan. Diantara yang menarik untuk dikaji dan diskusikan, apa yang disampaikan oleh Masdar F. Mas’udy, Katib Syuri’ah PBNU dan anggota komisi Fatwa MUI, seputar peninjauan ulang kembali waktu-waktu pelaksanaan ibadah haji dan dipasarkan oleh Ulil Absor Abdalla dalam tulisanya di Media Indonesia, selasa 3 Februari 2004.
Kesimpulannya, menurut Masdar, selama ini telah terjadi kesalah dalam pemahaman menyangkut waktu-waktu pelaksanaan ibadah haji, puncak ibadah haji yang dilakukan tanggal 9, 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, menurutnya, bertentangan dengan nash shorih dalam al qur’an. “Al Hajju Asyhurun Ma’lumat” (waktu haji adalah beberapa bulan yang sudah maklum, yaitu Syawwal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dengan perbedaan apakah Dzulhijjah seluruhnya atau hanya 9 atau 10 hari pertama) berdasarkan ayat tersebut, ibadah haji dapat dilakukan kapan saja, dalam hari-hari selama tiga bulan tersebut, tanpa terfokus pada hari-hari yang selama kita kenal sebagai puncak pelaksanaan ibadah haji.”[1]
[1] Hartono Ahmad Jaiz, Menangkal Bahaya JIL & FLA

Pemikiran Liberal yang dilontarkan oleh Masdar yang pernah mengatakan “Kewajiban pajak bisa menggantikan Zakat” ini sangat kontradiksi dengan hadits Nabi:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ لَعَلِّى لاَ أَرَاكُمْ بَعْدَ عَامِى هَذَا
“Ikutilah aku (Nabi Muhammad) dalam melaksanakan manasik hajimu, mungkin saja kalian tidak lagi melihatku setelah tahun ini” (HR. Al Baihaqi)
Nabi Muhammad SAW sendiri melaksanakan ibadah haji dan mengajarkannya tepat tanggal 9-13 Dzulhijjah. Manasik haji dengan konsep Tauqifi Nabawi (doktrinasi kenabian) ini sudah dilaksanakan masyarakat islam seluruh dunia.[1]
[1] KH. Lutfi Bashori, Konsep NU & Krisis Penegakan Syari’at

Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Ketua Majlis Tarjih Muhammadiyyah, bekas rektor IAIN Yogjakarta mengatakan: “Tafsir-tafsir Al Qur’an tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan ummat”
Ini mengingkari ilmu, sebab tafsir-tafsir kalsik itu menyampaikan warisan ilmu dari nabi Muhammad SAW yang disampaikan kepada para Shahabat, diwarisi para Tabiin, lalu Tabiit-Tabiin yang kemudian diwarisi para Ulama’. Dengan menafikan makna dan fungsi alqur’an , maka yang akan dibabat justru alqur’an sendiri. Akhirnya tidak diketahui mana makna yang kuat dan mana makna yang lemah dalam mengetahui isi alqur’an.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا (82)
“Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’ : 82)
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr : 9)
Kaum Muslimin perlu merenungkan masalah ini dengan serius. Jika al-Qur’an dan ilmu tafsir al-Qur’an dirusak dan dihancurkan, apalagi yang tersisa dalam Islam…?[1]
LIBERALISASI SYARI’AT ISLAM
Inilah aspek liberalisasi yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah qath’i dan pasti, di bongkar dan dibuat hukum baru yang di anggap sesuai dengan perkembangan zaman. Salah satu program liberalisasi Islam di Indonesia adalah “Kontekstualisasi Ijtihad”. Para tokoh liberal biasanya memang menggunakan metode “Kontekstualisasi” sebagai mekanisme dalam merombak hukum Islam. Sebagai contoh, salah satu hukum Islam yang banyak dijadikan objek Liberalisasi adalah hukum Islam dalam bidang keluarga, Misalnya dalam masalah perkawinan antar agama, khususnya antara muslimah dengan laki-laki non-muslim.
Dalam sebuah tulisannya, Azyumardi Azra menjelaskan metode kontekstualisasi yang dilakukan oleh gerakan pembaruan Islam di Indonesia, yang dipelopori Nurcholish Madjid:
“Bila didekati secara mendalam, dapat ditemui bahwa gerakan pembaruan yang terjadi sejak tahun tujuh puluhan memiliki komitmen yang cukup kuat untuk melestarikan ‘tradisi’ (turats) dalam satu bingkai analisis yang kritis dan sistematis. Pemikiran para tokohnya didasari kepedulian yang sangat kuat untuk melakukan formulasi metodologi yang konsisten dan universal terhadap penafsiran al-Qur’an; suatu penafsiran yang rasional yang peka terhadap konteks kultural dan historis dari teks kitab suci dan konteks masyarakat modern yang memerlukan bimbingannya.”
“Bila didekati secara mendalam, dapat ditemui bahwa gerakan pembaruan yang terjadi sejak tahun tujuh puluhan memiliki komitmen yang cukup kuat untuk melestarikan ‘tradisi’ (turats) dalam satu bingkai analisis yang kritis dan sistematis. Pemikiran para tokohnya didasari kepedulian yang sangat kuat untuk melakukan formulasi metodologi yang konsisten dan universal terhadap penafsiran al-Qur’an; suatu penafsiran yang rasional yang peka terhadap konteks kultural dan historis dari teks kitab suci dan konteks masyarakat modern yang memerlukan bimbingannya.”
Kontekstualisasi para pembaru Islam ala Nurcholish Madjid ini tidaklah sama dengan teori Asbabun Nuzul yang dipahami oleh kaum Muslimin selama ini dalam bidang Ushul Fiqh. Tetapi, Azyumardi Azra memberikan legitimasi dan pujian terhadap metode Nurcholish Madjid:
“Cak Nur berpegang kuat kepada Islam tradisi hampir secara keseluruhan, pada tingkat esoteris dan eksoteris. Dengan sangat bagus dan distingtif ia bukan sekedar berpijak pada aspek itu, namun ia juga memberikan sejumlah pendekatan dan penafsiran baru terhadap tradisi Islam itu. Maka, hasilnya adalah apresiasi yang cukup mendalam terhadap syari’ah atau fiqh dengan cara melakukan kontekstualisasi fiqh dalam perkembangan zaman.”
Apa yang dikatakan Azra sebagai bentuk apresiasi syariat atau fiqh yang mendalam oleh Nurcholish Madjid adalah sebuah pujian yang sama sekali tidak berdasar. Nurcholish sama sekali tidak pernah menulis tentang metodologi fiqh dan hanya melakukan dekonstruksi terhadap beberapa hukum Islam yang tidak disetujuinya. Ia pun hanya mengikuti jejak gurunya, Fazlur Rahman, yang menggunakan metode Hermeneutika untuk menafsirkan al- Qur’an. Misalnya, saat pidato kebudayaan di TIM (Taman Ismail Marzuki), 21 Oktober 1992, Nurcholish mempromosikan pendapat yang lemah tentang Ahlul Kitab, dengan mengatakan:
“Dan patut kita camkan benar-benar pendapat Sayyid Muhammad Rasyid Ridla sebagaimana dikutip Abdul Hamid Hakim bahwa pengertian sebagai Ahlul Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi dan Kristen seperti tersebut dengan jelas dalam al-Qur’an serta kaum Majusi (pengikut Zoroaster) seperti tersebutkan dalam sebuah hadits, tetapi juga mencakup agama-agama lain yang mempunyai suatu bentuk kitab suci.”
Pendapat Nurcholish ini sangat lemah, dan telah dibuktikan kelemahannya, misalnya, oleh Dr. Muhammad Galib dalam disertasinya di IAIN Jakarta (yang juga diterbitkan oleh Paramadina) dan oleh Dr. Azizan Sabjan, dalam disertasinya di ISTAC Malaysia. Namun, Nurcholish tidak peduli dengan koreksi dan kritik, dan tidak pernah merevisi pendapatnya. Prestasi kaum pembaru di Paramadina dalam merombak hukum Islam lebih jelas lagi dengan keluarnya buku Fiqih Lintas Agama (FLA), yang sama sekali tidak apresiatif terhadap syariat. Bahkan, merusak dan menghancurkannya. Misalnya, dalam soal perkawinan antar agama, buku FLA menulis:
“Soal pernikahan lelaki non Muslim dengan wanita Muslimah merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dalam konteks tertentu,, diantaranya:
Pertama, konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslimah boleh menikah dengan laki-laki non Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya. Dan pernikahan beda agama dapat dijadikan salah satu ruang, yang mana antara penganut agama dapat saling berkenalan secara lebih dekat.
Kedua, bahwa tujuan dari diberlangsungkannya pernikahan adalah untuk membangun tali kasih (al-mawaddah) dan tali sayang (al-rahmah). Di tengah rentannya hubungan antar agama saat ini, pernikahan beda agama justru dapat dijadikan wahana untuk membangun toleransi dan kesepahaman antara masing-masing pemeluk agama. Bermula dari ikatan tali kasih dan tali sayang, kita rajut kerukunan dan kedamaian.”
Ketiga, Semangat yang dibawa islam adalah pembebasan, bukan belenggu. Dan tahapan-tahapan yang dilakukan oleh al-qur’an sejak larangan pernikahan dengan orang musyrik, lalu membuka jalan bagi pernikahan dengan ahli kitab merupakan sebuah tahapan pembebasan secara evolutif. Dan pada saatnya, kita harus melihat agama lain bukan sebagai kelas ke-dua, dan bukan pula ahluddzimmah dalam arti menekan mereka, melainkan sebagai warga negara.
Cakupan batasan ahli kitab mengalami perkembangan pada masa tabiin. Abu Al-Aliyah (W 39H) mengatakan bahwa kaum Shabiin adalah kelompok ahli kitabyang membaca kitab suci zabur,. Imam Abu Hanifah (W 150 H) dan ulama lain dari madzhab Hanafi serta sebagian madzhab Hambali berpendapat, siapapun yang mempercayai salah satu nabi, atau kitab yang pernah diturunkan Allah, maka ia termasuk ahli kitab. Tidak terbatas pada kelompok penganut agama Yahudi dan Nasrani saja.
Menurut imam Assyafi’i (W. 204 H) ,istilah ahli kitab hanya menunjuk pada orang-orang Yahudi dan Nasrani dari keturunan Bani Israil. alasannya, Nabi Musa as dan Nabi Isa as hanya di utus kepada Bani Israil, tidak kepada bangsa-bangsa selainnya. karenanya, dalam pandangan ini, bangsa-bangsa lain yang menganut agama Yahudi dan Nasrani, begitu pula orang-orang Kristen di Indonisia ,tidak termasuk ahli kitab. selain itu al-quran (al-Ma’idah:5) memakai redaksi “Min qoblikum” (sebelum kamu). dengan demikian, mereka yang menganut agama Yahudi dan Nasrani selain keturunan Bani Israil tidak di kategorikan ahli kitab. sedangkan at-Tabari (W. 310 H) memahami termasuk ahli kitab secara idiologis. menurutnya, mereka adalah para pemeluk agama Yahudi dan Nasrani dari keturunan siapapun mereka .
Dengan demikian, konotasi ahli kitab hanya terbatas pada komunitas Yahudi dan Nasrani saja. sekiranya Majusi termasuk ahli kitab, Rasulullah SAW tidak akan memerintahkan para shahabat memperlakukan mereka seperti halnya ahli kitab. begitu pula surat- surat dakwah yuang beliau kirim kepada sejumlah penguasa diluar semenanjung Arabia, memberikan petunjuk bahwa ahli kitab hanya terbatas pada kaum Yahudi dan Nasrani. surat-surat tersebut juga mengindikasikan bahwa islam adalah agama dakwah . seandaiya status mereka itu sama dengan umat islam, niscaya Rasululloh SAW tidak akan mengirimkan surat-surat dakwah itu kepada mereka untuk mengajak mereke masuk islam.[1]
[1] Koreksi terhadap buku Fiqh Lintas Agama, MUI

Jadi, pendapat Azyumardi Azra tentang hebatnya kaum pembaru Islam yang dimotori Nurcholish Madjid adalah sama sekali tidak terbukti. Sebagai salah seorang cendekiawan yang sangat populer, Azra telah melakukan kekeliruan besar dengan cara memberikan legitimasi berlebihan terhadap gerakan pembaruan Islam yang telah terbukti sangat destruktif terhadap khazanah pemikiran Islam. Dengan alasan melakukan kontekstualisasi, maka kaum liberal melakukan penghancuran dan perombakan terhadap hukum-hukum Islam yang sudah pasti (qath’iy), seperti hukum perkawinan Muslimah dengan laki-laki non Muslim.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآَتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ذَلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (10)
“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu Telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang Telah mereka bayar. dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang Telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang Telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Mumtahanah : 10)
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (221)
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al Baqarah : 221)
Jadi, diperbolehkannya pernikahan lelaki muslim dengan perempuan ahlul kitab apabila perempuan tersebut dari keturunan Bani Isra’il, maka diharuskan nenek moyangnya tidak masuk agama Yahudi-Nasrani setelah agama tersebut dimansukh dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW, Adapun kalau perempuan tersebut bukan dari keturunan Bani Israil maka harus benar-benar diketahui bahwa nenek moyangnya masuk agama Yahudi-Nasrani sebelum agama tersebut dimansukh dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW. disamping disyaratkan tidak akan mengganggu keyakinan agamanya dan agama putra-putrinya, apalagi adanya misi kristenisasi.
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (5)
“Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al Maidah : 5)
Jadi pernyataan mereka bahwa Allah SWT tidak pernah melarang dengan tegas perkawinan lelaki muslim dengan perempuan kafir itu bukti kebodohan yang nyata, karena pikiran dan hati mereka sudah buta.[1]
[1] KH. Muh. Najih Maimoen, Menangkal kesesatan-kesesatan dan pandangan Ulil Absor

Musdah Mulia, tokoh feminis, juga melakuka perombakan terhadap hukum perkawinan dengan alasan kontekstualisasi. Tapi, berbeda dengan buku Fiqh Lintas Agama, yang menekankan faktor jumlah umat Islam sebagai konteks yang harus dijadikan pertimbangan hukum, Musdah melihat konteks ‘peperangan’ sebagai hal yang harus dijadikan dasar penetapan hukum. Ia menulis:
“Jika kita memahami konteks waktu turunnya Surat Al Mumtahinah Ayat 10 larangan ini sangat wajar mengingat kaum kafir Quraisy sangat memusuhi Nabi dan pengikutnya. Waktu itu konteksnya adalah peperangan antara kaum Mu’min dan kaum kafir. Larangan melanggengkan hubungan dimaksudkan agar dapat diidentifikasi secara jelas mana musuh dan mana kawan. Karena itu, ayat ini harus dipahami secara kontekstual. Jika kondisi peperangan itu tidak ada lagi, maka larangn dimaksud tercabut dengan sendirinya.”
Nuryamin Aini, seorang dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta, juga membuat pernyataan yang menggugat hukum perkawinan antar agama:
“Maka dari itu, kita perlu meruntuhkan mitos fikih yang mendasari larangan bagi perempuan Muslim untuk menikah dengan laki-laki nonmuslim. Isu yang paling mendasar dari larangan PBA (perkawinan beda agama, red) adalah masalah sosial politik. Hanya saja, ketika yang berkembang kemudian adalah logika agama, maka konteks sosial-politik munculnya larangan PBA itu menjadi tenggelam oleh hegemoni cara berpikir teologis.”
Entah kenapa, di Indonesia yang mayoritas Muslim, kaum liberal berusaha keras untuk menghancurkan hukum perkawinan antar agama ini, seolah-olah ada kebutuhan mendesak kaum Muslim harus kawin dengan non-muslim. Ulil Abshar Abdalla, di Harian Kompas edisi 18 November 2002, juga menulis: “Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non Islam sudah tidak relevan lagi.” Bahkan, lebih maju lagi, Dr. Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta, kini tercatat sebagai ‘penghulu swasta’ yang menikahkan puluhan, mungkin sekarang sudah ratusan- pasangan beda agama.
Padahal, perlu dicatat, larangan muslimah menikah dengan laki-laki non Muslim sudah menjadi ijma’ ulama dengan dalil-dalil yang sangat meyakinkan, seperti Surat Al Mumtahinah Ayat 10. Memorandum Organisasi Konferensi Islam (OKI) menyatakan: “Perkawinan tidak sah kecuali atas persetujuan kedua belah pihak, dengan tetap memegang teguh keimanannya kepada Allah bagi setiap Muslim, dan kesatuan agama bagi setiap Muslimat….”
Demikianlah cara dan siasat kaum liberal di Indonesia dalam merombak hukum Islam, dengan mengubah metodologi ijtihad yang lebih menekankan aspek konteks, ketimbang makna teks itu sendiri. Gagasan-gagasan mereka bisa berlangsung sangat liar tanpa batasan dan teori yang jelas. Mereka bisa menyusun teori konteks itu sekehendak hati mereka..
Ketika hukum-hukum yang pasti dirombak, maka terbukalah pintu untuk membongkar seluruh sistem nilai dan hukum dalam Islam. Dari IAIN Yogyakarta, muncul nama Muhidin M. Dahlan yang menulis buku memoar berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, yang memuat kata-kata berikut:
“Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis lelah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah ‘pelacur’ dan ‘anak haram’ pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, luna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercayakan.”
Dari Fakultas Syariah IAIN Semarang, bahkan muncul gerakan legalisasi perkawinan homoseksual. Mereka menerbitkan buku berjudul: Indahnya Kawin Sesama Jenis; Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual. Buku ini adalah kumpulan artikel di Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25, th XI, 2004. Dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia:
“Bentuk riil gerakan yang harus di bangun,1). mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah di rampas oleh negara, 2). memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkanya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homosekseksual dalam menuntut hak-haknya, 3). melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, 4). menyuarakan perubahan UU perkawinan No 1/ 1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.”
Pada bagian penutup buku tersebut, anak-anak fakultas Syariah IAIN Semarang tersebut menulis kata-kata yang tidak pernah terbayangkan oleh seorang Muslim pun:
“Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”
Mengikuti arus apa yang telah terjadi di dunia Barat, kaum liberal di Indonesia memang mulai melakukan kampanye sistematis untuk melakukan legalisasi perkawinan sejenis. Prof. Siti Musdah Mulia, dosen UIN Jakarta, misalnya, yang sudah buta hatinya dan kacau pikirannya karena kebanyakan makan uang zionis, dia orang yang secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap legalisasi perkawinan sesama jenis. Dalam satu makalahnya yang berjudul Islam Agama Rahmat bagi Alam Semesta, ia menulis:
“Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab, menjadi heteroseksual, homoseksual (gay atau lesbi), dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang ‘given’ atau dalam bahasa fiqh disebut sunnatullah sementara perilaku sesksual bersifat konstruksi manusia. Jika hubungan sejenis atau homo, baik gay atau lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaian-pencapaian tujuan dasar tadi, maa hubungan demikian dapat diterima.” (Pembahasan tentang hal ini bisa dilihat dalam Majalah Tabligh MTDK Muhammadiyah, Mei 2008).
Sebuah Jurnal yang juga sangat aktif dalam mengkampanyekan legitimasi homoseksual adalah Jurnal Perempuan, yang juga dimotori oleh aktivis liberal di Indonesia. Pada No. 58, edisi Maret 2008, jurnal ini secara khusus mengangkat tema “Seksualitas Lesbian”. Para pendukung perkawinan sesama jenis ini biasanya menggugat kembali penafsiran terhadap kisah kaum Nabi Luth a.s yang dipahami telah diazab karena melakukan praktek homoseksual. “Di sinilah kita perlu pertanyakan kembali kesimpulan tadi, benarkah azab hanya berkaitan dengan masalah moral dan praktek seksual saja?” tulis seorang penulis liberal. “Saya juga menolak apabila “Azab” hanya dikaitkan dengan persoalan moral dan keyakinan belaka.”[1]
[1] Tantangan Da’wah Kontemporer, Liberalisme Islam Di Indonesia

Ancaman liberalisasi Islam di Indonesia, saat ini adalah tantangan yang terbesar yang dihadapi semua komponen umat Islam, baik pondok pesantren, perguruan tinggi Islam, ormas Islam, lembaga ekonomi Islam, maupun partai politik Islam. Sebab, liberalisasi Islam telah menampakkan wajah yang sangat jelas dalam menghancurkan Islam dari asasnya, baik aqidah Islam, al-Qur’an maupun syariat Islam. Tidak ada cara lain untuk membentengi keimanan kita, keluarga kita, dan jamaah kita, kecuali dengan meningkatkan ilmu-ilmu keIslaman yang benar dan memohon pertolongan kepada Allah SWT. Keimanan yang tangguh dan akhaq yang baik. Selamatkan aqidah Islam dari bahaya liberalisme Islam.
Sumber : http://www.ppalanwar.com Penulis: K. H. Muhammad Najih M. Z.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s