Kabinet Indonesia Bersatu II : Antara Profesionalitas dan Kepentingan Politis

Kabinet Indonesia BersatuPresiden Bambang Sosilo Yudhoyono telah mangkhiri panggung sinetron Cikeas dalam menentuan para mentri yang akan membantunya dalam lima tahun kedepan. Hampir semua yang dipanggil oleh SBY semua terpilih dan menempati pos-pos departemen yang telah ditentuakan. Sebenarnya proses rekretmen yang dilakukan SBY bukanlah audisi yang mentri sebagaimana yang dikabarkan di media massa, tapi semua preses seleksi lewat wawancara, tes psikotes atau tes kesehatan hanyalah formalitas SBY agar masyarakat memahami bahwa proses rekrutmen mentri dilakukan secara ketat lewat seleksi yang telah ditentukan. Terlepas dari proses rekrutmen mentri, kabinet bersatu II didominasi oleh orang-orang partai, yakni 21 dari 34 orang mentri merupakan perwakilan partai sehingga cabinet bersatu II lebih tepat disebut sebagi cabinet politikus (61%) disbanding kabinet professional (39%)[1].

AKOMODASI KEPENTINGAN POLITIK

Dengan perolehan suara Partai Demokrat pada Pileg 2009 yang sangat dominan, SBY tak lagi perlu mencari cawapres dari kalangan partai politik untuk mencalonkan diri sebagai Presiden. Namun demikian, “kekuauasaan” yang dimiliki tetap tak bisa sepenuhnya digunakan mengingat SBY tetap membangun koalisi taktis dengan beberapa partai politik sebagai second layer pendukungnya seperti PKB, PKS, PAN maupun PPP. Oleh karena itu, kue kekuasaan pun harus rela dibagikan dalam bentuk jatah menteri kepada partai-partai politik pendukungnya yang tergabung dalam koalisi taktis. Di menit-menit terakhir pun, demi memuluskan penguasaan di legislatif, SBY juga menerima dengan tangan terbuka Partai GOLKAR dibawah kepemimpinan Ketua Umum baru Aburizal Bakrie untuk bergabung dalam barisan pendukungnya dengan memberi jatah kursi menteri kepada Partai GOLKAR.

SBY tidak hanya mampu mengakomodasi kepentingan politik dalam negeri dengan menggalang dan menggulung partai-partai politik untuk bergabung dalam barisannya, tetapi SBY juga mampu mengakomodasi kepentingan politik luar negeri dan internasional (kepentingan asing) yang ingin memastikan bahwa Indonesia tetap di dalam kendali dan hegemoni mereka[2]. Beberapa nama yang masih dipertahankan seperti halnya Sri Mulyani yang mewakili kepentingan IMF, Mari Elka Pangestu, mantan Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang merupakan salah satu lembaga kajian yang selama ini berfungsi sebagai kepanjangan tangan kepentingan AS di Indonesia. Selain itu juga Purnomo Yusgiantoro, orang terkaya di Indonesia, yang selama ini secara terus menerus setia duduk menjabat sebagai menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) walaupun terjadi beberapa kali pergantian Presiden Indonesia adalah titipan kartel perusahaan minyak dunia untuk mengamankan kepentingan mereka terhadap potensi energi dan sumber daya mineral di Indonesia. Yang mengherankan, setelah beberapa kali Purnomo Yusgiantoro dititipkan sebagai Menteri ESDM, kali ini Purnomo Yusgiantoro justru dititipkan sebagai Menteri Pertahanan yang sangat jauh berbeda lingkup kompetensinya dengan departemen ESDM yang sekian lama dipegangnya. Tentu saja ini memunculkan sebuah pertanyaan besar hidden agenda apa yang akan dimainkan oleh Purnomo Yusgiantoro untuk kepentingan asing dalam konteks kepindahannya ke bidang pertahanan? Indikasi lain yang sangat kuat dan terlihat jelas adanya kepentingan asing yang ikut bermain dalam penyusunan kabinet adalah dengan digantinya Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang pernah menghebohkan dunia internasional dengan membongkar konspirasi tingkat dunia yang melibatkan WHO dan Amerika Serikat terkait dengan pengembangan virus flu burung H5N1 sebagai senjata biologi[3]. Akibat manuvernya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun. Dalam bukunya yang berjudul “It’s Time for the World to Change”, Prof. Siti Fadilah Supari membongkar habis persekongkolan yang dilakukan oleh AS dan WHO dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung di Los Alamos National Laboratory di New Mexico, AS. Ironisnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bukannya mendukung dan bangga atas prestasi menterinya, melainkan malah memintanya untuk menarik buku tersebut dari peredaran. Diam-diam Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu. Maka tak mengherankan jika dalam kabinetnya yang sekarang ini, SBY tidak lagi mempertahankan Prof. Siti Fadilah Supari sebagai Menteri Kesehatan demi mendapatkan dukungan politik internasional (kepentingan asing). Pada kabinet bersatu II, Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih dipilih oleh SBY untuk menggantikan posisi Siti Fadlilah Supari menduduki pos mentri kesehatan. Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, DR.PH adalah Direktur di Center for Biomedical and Pharmaceutical Research & Programme Development National Institute of Health Research & Development-MOH (Puslitbang Biomedis dan Farmasi) sejak Februari 2007. Lembaga Puslitbang Biomedis dan Farmasi ini berkantor di Percetakan Negara, Jakarta satu areal dengan kantor NAMRU 2 (The US Naval Medical Reseach Unit Two) yang keberadaannya pernah digugat oleh Prof. Siti Fadilah Supari sebagai bentuk aktifitas intelejen yang dilakukan oleh AS di Indonesia.

PROFESIONALITAS KABINET BERSATU II

Ada bagian menarik dari pengumuman Kabinet Indonesia Bersatu II yang merupakan team pengawal SBY sampai 2014 dalam pelaksanaan kerja-kerja pemerintahan, yakni pergeseran pakem beberapa kursi menteri. Mencermati 3-4 periode kabinet di era reformasi, terselip sebuah kesepakatan tidak tertulis bahwa Menteri Agama untuk Nahdatul Ulama dan Menteri Pendidikan jatah buat Muhammadiyah[4].

Drs. KH M Tolchah Hasan (Kabinet Persatuan Nasional – 23 Oktober 1999 sampai 09-Agutus 2001), Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar (Kabinet Gotong Royong – 09-Agustus 2001 sampai 20 oktober2004), dan Muh. Maftuh Basyuni SH (Kabinet Indonesia Bersatu 20 oktober 2004 sampai 22 oktober 2009) merupakan 3 nama Menteri Agama berlatar belakang Nahdatul Ulama.

Yahya Muhaimin (Kabinet Persatuan Nasional 23 Oktober 1999 sampai 22 Juli 2001), Abdul Malik Fadjar (Kabinet Gotong Royong 10 Agustus 2001 sampai 20 Oktober 2004), dan Bambang Sudibyo (Kabinet Indonesia Bersatu 20 Oktober 2004 sampai 22 Oktober 2009) adalah 3 Menteri Pendidikan yang berasal dari Muhammadiyah.

Sementara Kabinet Indonesia Bersatu II,  mengubah “standar” yang sudah berjalan beberapa periode, yakni Menteri Agama yang dipegang Suryadharma Ali (Ketua PPP) dan Menteri Pendidikan dipegang Muhammad Nuh (Akademisi). Hal ini disebabkan oleh cara rekrutmen menteri yang menurut SBY berdasarkan profesionalitas sebagaimana komentar SBY dalam pembatalan Nilai Juwita Moelek yang akan menduduki pos menteri kesehatan. “Sekali lagi konsep the right person, on the right place, in the right time, saya dua hari membahas itu. Saya menerima laporan lengkap detil dari tim uji kesehatan, termasuk kesehatan jiwa”[5]. Konsep the right person, on the right job, in the right time or place jelas merujuk pada tujuan utama digunakannya psikotes. Hasil dari laporan psikotes akan menampilkan deskripsi kapasitas kepribadian dan mental individu. Hasil psikotes ini kemudian dihubungan kan dengan tuntutan dari pekerjaan (job spesification dan job description) yang akan menjadi tanggungjawabnya. Jika antara profil kapasitas psikologis individu tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan, tentu saja sang individu dinyatakan tidak sesuai untuk pekerjaan tersebut dengan kata lain not the right person for job.


[1]http://politik.vivanews.com/news/read/99434-_jangan_sebut_menteri_parpol_tak_profesional_

 

[2] http://itempoeti.com/2009/10/susunan-kabinet-indonesia-bersatu-ii-sebuah-analisis/

[3] http://newyorkermen.multiply.com/journal/item/224

[4] http://politik.kompasiana.com/2009/10/23/nu-dan-muhammadiyah-kehilangan-jatah/

[5] http://politik.kompasiana.com/2009/10/23/psikotes-penyebab-prof-dr-nila-juwita-moeloek-gagal-seleksi/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s