Upaya Memahami Modernitas Sebagai Sebuah Aspek Perubahan Politik di Dalam Dinamika Masyarakat Dunia

modernitasDi dalam sejarah kehidupan di dunia ini, manusia tidak pernah lepas dari berbagai aspek yang memperngaruhi perkembangannya untuk mencapai sebuah ide yang universalitas yakni berupaya menuju masyarakat yang bertatanan baik secara ekonomi, sosial dan politik. Di dalam perkembangan manusia terdapat berbagai dinamika yang di pengaruhi oleh paham maupun ideologi yang anut. Pada tataran ini, perkembangan masyarakat di pengaruhi oleh perang gagasan yang di ciptakan oleh para intelektual yang pada akhirnya mempengaurhi tataran kehidupan masyarakat pada level makro hingga mikro, sehingga membuat perubahan yang mendasar, tak terkecuali kehidupan politik. Salah satu teori yang banyak berpengaruh pada awal 1960an adalah teori modernitas. Teori tentang modernitas ini telah memberi banyak pengaruh dalam aspek perubahan politik masyarakat dunia.
A. Sejarah Munculnya Modernitas
Perubahan politik dapat didefinisikan sebagai perubahan perspektif bergulirnya kekuasaan pada basis untuk menguasai resources yang ada serta perubahan kemampuan untuk mendefinisikan sesuatu. Ia memiliki sebuah artian yang lebih luas pada konteks pusat wewenang kekuasaan yang pada awalnya terletak secara sentral, kini terlihat lebih menyebar seiring dengan hadirnya modernisasi politik. modernisasi yang selanjutnya dapat kita artikan sebagai pengalihan pusat wewenang kekuasaan secara dramatis dengan tiga ciri pokok yaitu peningkatan pemusatan wewenang kekuasaan pada negara, bersamaan dengan melemahnya sumber-sumber wewenang kekuasaan tradisionl, diferensiasi dan spesialisasi lembaga-lembaga politik, dan peningkatan partisipasi rakyat dalam politik dan kesediaan rakyat untuk terintegrasi dalam sistem politik secara keseluruhan.
Modernisasi menurut David C. McClelland dalam Dorongan Hati Menuju Modernisasi. Dua pertanyaan bagus yang dilemparkan McClelland untuk mengawali pendapatnya mengenai modernisasi sepertinya mampu mengungkapkan asal usul maupun proses terjadinya modernisasi itu sendiri.
• Apakah yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan modernisasi?
• Bagaimanakah wujudnya dan darimanakah asalnya?
David C. McClelland, seorang pemikir yang bergerak dalam bidang psikologi, merupakan seseorang yang percaya akan adanya suatu “virus mental” sebagai penyebab terjadinya proses pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada terjadinya modernisasi. n Ach, begitulah McCleland menyebut virus yang disinyalir menjadi salah satu pendorong terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat menuju sesuatu yang labih berkembang dan modern. Bukan suatu virus yang asing apalagi mengerikan apabila mengetahui bahwa virus yang disebut n Ach tersebut merupakan kependekan dari istilah Need for Achievement atau kebutuan untuk meraih hasil dan prestasi. Orang-orang yang telah terserang virus ini tentunya akan menunjukkan usaha-usaha untuk menemukan cara bekerja yang lebih efisien, lebih cepat, tidak teralalu memepergunakan tenaga tetapi dengan hasil yang lebih baik. McClellad berpendapat bahwa virus n Ach ini merupakan salah satu bagian yang mendorong masyarakat ke arah pertumbuhan ekonomi. Pernyataan dari McClelland tersebut diperkuat dengan sebuah penelitian yang dilakukan di kota Kakinada, Andra Pradesh, India. Terbukti bahwa pengusaha yang sempat mengikuti training perluasan industri yang diselenggrakan Small Industries Extention Training Institute , dalam jangka waktu beberapa tahun mampu menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan dalam usahanya. Hal yang turut membuktikan bahwa virus n Ach yang ditanamkan selama mereka mengikuti pelatihan tersebut adalah ketika usaha yang mereka kembangkan mulai memperlihatkan sebuah perkembangan yang sifatnya membawa pembaharuan.
Selain hal tersebut, terdapat bebeapa pernyataan menarik tentang peran n Ach yang dapat dilihat dari berkembangnya usaha para pengusaha setelah mereka mengikuti pelatihan tersebut, diantaranya :
1. Virus n Ach telah membuat orang menjalankan pekerjaannya bukan karena kecintaannya pada uang atau pekerjaan semata, melainkan mereka menganggap bahwa menjalakan pekerjaan dengan baik merupakan suatu hal yang sudah sepatutnya agar kepuasan dalam hidup dapat diraih.
2. Virus n Ach ternyata mampu menyebabkan orang menigkatkan kualitas yang dimilki. Dengan demikian orang-orang yang terjangkit virus tersebut akan selalu terdorong untuk melakukan pembaharuan untuk menemukan cara-cara yang lebih baik untuk membereskan suatu pekerjaan.
3. Orang-orang yang telah terjangkiti virus n Ach tidak akan ragu-ragu untuk mendobrak atau mematahkan tradisi-tradisi sosial yang ada untuk memperoleh cara-cara baru yang lebih baik. Lagi-lagi kata pembaharuan sangat terlihat dari kegiatan orang yang telah terjangkit virus ini. Orang-orang tersebut menganggap bahwa tradisi yangada selama ini justru hanya menyababkan kelambatan dalam pengembangan usahanya.
Meskipun begitu banyak hal yang berhasil ditimbulkan n Ach dalam proses pembaharuan, namun McClelland juga berependapat bahwa masih ada hal lain yang turut ambil bagian dalam proses modernisasi selain n Ach.
Kebajikan Sosial. Hal ini lah yang juga dianggap McClelland sebagai pendorong terjadinya proses modernisasi Kebajikan sosial yang dimaksud tertang dalam bentuk perhatian kepada kesejahteraan orang lain secara umum. Concern terhadap kesejahteraan orang lain secara umm dianggap McClelland sangatberpengaruh dalam terjadinya perkembangan dalam suatu negara. Dalam hal ini McClelland mengkaitkannya dengan investasi dalam bidang kesehatan dan juga pendidikan. Pemelliharaan kesehatan terutama dalam hal piskologis merpakan hal yang tak dapat dilewatkana bagi terjadinya proses modernisasi, menurutnya pula, suatu tingkat kesehatan umum yang minimum harus dapat dicapai dahulu sebelum suatu negara dapat “ meluncur” ke arah perkembangan ekonomi yang pesat. Demkian pula halnya dengan penitngnya investasi pendidikan . Meskipun hasilnya tidak dapat diorasakan secara langsung, namun pendidikan secara tidak langsung akan lebih mengeksplorasi seseorang untuk dapat mengetahui serta meraih puncak kemampuannya, sehingga cepat atau lambat dengan disertai dengan adanya rasa kesadaran akan pentingnya pendidikan, sikap-sikap tersebut akan menimbulkan hasil secara ekonomis.
Namun demikian, pertanyaan yang seringkali muncul seiring mencuatnya n Ach sebagai pendorong proses modernisasi adalah : darimana n Ach ini berasal? Melalui penelitian dari paradigma psikologis, McClelland mengemukakan bahwa dua halyang menjadi penyebab utama timbulnya virus n Ach pada diri seseorang adalah perasaan minoritas yang ketat serta doktriner. Perasaan minoritas yang sering tumbuh karena adanya diskrriminas terhadap seseorang tenyata mampu memancing tekad dalam diri orang tersebut untuk membuat dirinya lebih dihargai serta dipandang dengan cara melakukan hal-hal baru yang berdampak besar. Adanya doktriner yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap munculnya virus n Ach dalam diri seseorang, di mana orang-orang tersebut menganggap bahwa derajat mereka lebih tiinggi daripada orang-orang lain yang ada di sekitar mereka dan dengan suatu cara tertentu merekalah yang memegang kunci keselamatan yang mungkin bukan saja untuk diri mereka sendiri tetapi juga bagi orang-orang lain.
n Ach, sebuah virus yang tidak nyata secara fisik, namun virus tersebutlah yang terbukti membuat negara-negara yang terjangkiti virus tersebut lebih cepat memperolah suskses ekonomi yang besar serta selelu mengalami modernisasi dibanding negara yang belum merasakan virus tersebut.

B. Dinamika Modernitas di Negara Berkembang dan Negara Maju
Bila hal di atas telah di jelaskan mengenai sejarah tentang moderintas, terutama virus Need For Achievment yang menjadi rujukan pemikiran mengapa ada negera yang begitu mudah maju maupun tetap terbelakang. Ada baiknya kita coba merefleksikan apa pengaruh dari munculnya modernitas terhadaptatanan perubahan politik di Negara berkembang dan Negara maju. Terutama dalam upaya melihat dinamika distribusi kekuasaan serta kesempatan bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam partisipasi politik.
Di dalam artikel ‘partisipasi politik dan perkembangan politik’ yang ditulis oleh Myron wyner, kita akan mendapati jawaban-jawaban dari beberapa pertanyaan yang mungkin sering diajukan pada masa ketika banyak negara-negara dunia mulai berkembang. Pertanyaan-pertanyaan itu dikemas weiner dengan sangat menarik. Intinya pertanyaan-pertanyaannya ialah bagaimanakah perkembangan partisipasi politik di negara-negara yang sedang berkembang, serta apakah kaitan munculnya modernisasi (dampak atau akibat) pada perkembangan partisipasi politik.
Partisipasi politik dalam arti yang sebenarnya yaitu usaha terorganisasi oleh para warga negara untuk memilih pemimpin-pemimpin mereka dan mempengaruhi bentuk dan jalannya kebijaksanaan umum. Jadi berbagai tindakan dapat dikatakan sebagai partisipasi politik jika ia memang ditujukan untuk mempengaruhi bentuk jalannya kebijaksanaan umum dan bukan hanya sekedar pengumpulan dan pengorganisasian massa semata.
Diantara berbagai negara berkembang yang ada sekarang ini, hanya sejumlah kecil dari negara-negara yang sedang berkembang yang meluluskan adanya pemilihan umum yang bebas bersaing, di mana para pemilih diberikan kesempatan untuk memilih berbagai calon yang berbeda pandangan. kita dapat melihat bahwa memang partisipasi politik di masa itu sangat dibatasi dan memang negara pun mendukung dan berkuasa untuk membatasi adanya partisipasi politik dengan syarat, selama tidak ada pers yang baik dan tidak banyak terdapat organisasi-organisasi sukarela serta partai-partai oposisi.
Kenyataan bahwa kebanyakan negara-negara berkembang menganut partai tunggal dan militer di masa weiner melakukan riset, memang sangat mendukung pendapat diatas. Pemerintah yang otoriter tentunya punya kekuasaan sangat luas mengenai bagaimana ia mengatur negaranya, termasuk dalam mengondisikan negara agar semua elemen negara tunduk sesuai apa yang diinginkan. Salah satu pengkondisian yang dibuatnya mungkin ialah ditolaknya partai-partai oposisi dengan alasan bahwa negara tidak dapat membiarkan perpecahan-perpecahan dari dalam yang dapat membahayakan kesatuan nasional, modernisasi ekonomi, dan stabilitas politik. Lalu pertanyaannya kemudian ialah bagaimana meningkatkan partisipasi dalam kondisi yang sedemikian rupa? Jawabannya mungkin adalah dengan memunculkan modernisasi pada tiap elemen dalam masyarakat.
Hal ini tentu berhubungan dengan bagaimana modernisasi itu terjadi sendiri, termasuk dimana dia tumbuh dan bagaimana pemerataanya. Dalam artikelnya, weiner menyebutkan bahwa ketidaksamaan dalam modernisasi ialah salah satu faktor yang menyebabkan terhalanginya partisipasi politik. Tentu saja akibat yang dirasakan tidak sesingkat itu, tetapi melalui proses yang panjang terlebih dahulu. Contohnya saja, seperti yang dituliskan weiner dalam artikelnya, wilayah tertentu dari suatu negara dan kelas-kelas sosial serta sukusuku tertentu lebih mudah menyesuaikan usaha, malah juga dalam suatu sistem ekonomi yang berencana. Di India, umpamanya, negara bagian Punjab berhasil menggandakan produksi gandum dalam waktu 10 tahun, sementara itu di negara bagian Utara Pradesh, pendapatan perkapita telah menurun dalam waktu yang sama, sekalipun kedua negara bagian itu dipengaruhi oleh politik nasional yang sama dan sama-sama diperintah oleh partai kongres. Hal ini berarti bahwa negara. Dapat dilihat perbedaan partisipasi yang mungkin akan terjadi pada kedua negara bagian tersebut sebagai akibat dari berubahnya perekonomian masing-masing yang pada dasarnya dimunculkan oleh tidak meratanya modernisasi.
Dalam poin lain, dikatakan bahwa tingkat pertumbuhan yang tidak merata pada masyarakat juga hal yang menyebabkan munculnya protes-protes politik. Berarti pada akhirnya, warga negara pun mau ikut dan berani untuk menyuarakan pendapatnya.Selain itu faktor lain yang menimbulkan kesadaran partisipasi politik yang lebih besar adalah pertumbuhan komunikasi massa. Hal ini dibuktikan bahwa semakin luasnya persebaran informasi dan pendidikan di wilayah pedalaman menimbulkan kesadaran yang lebih besar dari warga negara untuk mempengaruhi kebijakan yang diambil pemerintah. Secara tidak langsung modernisasi mempungaruhi peningkatan partisipasi politik dalam masyarakat.
Modernisasi mendorong untuk terciptanya partisipasi politik yang lebih baik dalam suatu negara. Semakin cepat tingkat modernisasi suatu negara semakin meningkatkan partisipasi suatu negara. Jika modernisasi telah tercapai maka proses suatu bangsa untuk mencapai perubahan politik lebih mudah misalnya dalam bidang partisipasi politik seperti yang telah dijelaskan di atas.

Tahap-Tahap Perkembangan Masyarakat Dalam Dinamika Perubahan Politik
Di dalam perkembanganya, masyarakat mengalami beberapa pentahapan menuju modernitas. Dalam tahapan modernitas inilah, masyarakat mengalami perubahan yang sangat pesat dari masyarakat yang berdasar basis tradisional menuju masayarakat yang modern. Pada tataran ini masyarakat mengalami dinamika perubahan politik yang sangat dinamis sesuai tahapan yang di kemukakan oleh Rostrow, terutama penekanan Rostrow lebih menunjuk pada proses perubahan ekonomi yang juga berkontribusi pada perubahan politik suatu masyarakat atau Negara.
Menurut Rostow, proses pembangunan ekonomi bisa dibedakan ke dalam 5 tahap yaitu masyarakat tradisional (the traditional society), prasyarat untuk tinggal landas (the precon- ditions for take-off), tinggal landas (the take-off), menuju kekedewasaan (the drive to maturity), dan masa konsumsi tinggi (the age of high mass-consumption). Dasar pembedaan proses pembanguna ekonomi menjadi 5 tahap tersebut adalah karakteristik perubahan keadaan ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi. Menurut Rostow, pembangunan ekonomi atau proses transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern merupakan suatu proses yang multi-demensional. Pembangunan ekonomi bukan berarti perubahan struktur ekonomi suatu negara yang ditunjukkan oleh menurunnya peranan sektir pertanian dan peningkatan peranan sektor industri saja. Menurut Rostow, disamping perubahan seperti itu, pembangunan ekonomi berarti pula sebagai suatu proses yang menyebabkan antara lain:
( 1 ) perubahan orientasi organisasi ekonomi, politik, dan sosial yang pada mulanya berorientasi
kepada suatu daerah menjadi berorientasi ke luar.
(2) perubahan pandangan masyarakat mengenai jumlah anak dalam keluarga, yaitu dari menginginkan banyak anak menjadi keluarga kecil.
(3) perubahan dalam kegiatan investasi masyarakat, dari melakukan investasi yang tidak produktif (menumpuk emas, membeli rumah, dan sebagainya) menjadi investasi yang produktif.
(4) perubahan sikap hidup dan adat istiadat yang terjadi kurang merangsang pembangunan ekonomi (misalnya penghargaan terhadap waktu, penghargaan terhadap pertasi perorangan dan sebagainya)

Masyakarat Tradisional
Menurut Rostow, yang dimaksudkan dengan masyarakat tradisional adalah masyarakat yang fungsi produksinya terbatas yang ditandai oleh cara produksi yang relatif masih primitive dan cara hidup masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang rasional, tetapi kebiasaan tersebut telah turun temurun.
Dalam suatu masyarakat tradisional, menurut Rostow, tingkat produktivitas per pekerja masih rendah, oleh karena itu sebagian besar sumberdaya masyarakat digunakan untuk kegiatan sektor pertanian. Dalam sektor pertanian ini, struktur sosialisnya bersifat hirarkhis yaitu mobilitas vertikal anggota masyarakat dalam struktur sosial kemungkinannya sangat kecil. Maksudnya adalah bahwa kedudukan seseorang dalam masyarakat tidak akan berbeda dengan nenek moyangnya. Sementara itu kegiatan politik dan pemerintah pada masa ini digambarkan Rostow dengan adanya kenyataan bahwa walaupun kadang-kadang terdapat sentralisasi dalam pemerintahan, tetapi pusat kekuasaan politik di daerah-daerah berada di tangan para tuan tanah yang ada didaerah tersebut. Kebijaksanaan pemeritah pusat selalu dipengaruhi oleh pandangan para tuan tanah di daerah tersebut

Tahap Prasyarat Tinggal Landas
Seperti telah diungkapkan di muka, pembangunan ekonomi menurut Rostow adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan karakteristik penting suatu masyarakat, misalnya perubahan keadaan sistem politik, struktur sosial, sistem nilai dalam masyarakat dan struktur ekonominya. Jika perubahan-perubahan seperti itu terjadi, maka proses pertumbuhan ekonomi bisalah dikatakan sudah terjadi. Suatu masyarakat yang sudah mencapai proses pertumbuhan yang demikian sifatnya, dimana pertumbuhan ekonomi sudah mulai sering terjadi, bolehlah dianggap sudah berada pada tahap prasyarat tinggal landas. Tahap prasyarat tinggal landas ini didefinisikan Rostow sebagai suatu masa transisi dimana masyarakat mempersiapkan dirinya untuk mencapai pertumbuhan atas kekuatan sendiri (self-sustained growth). Menurut Rostow, pada tahap ini dan sesudahnya pertumbuhan ekonomi akan terjadi secara otomatis. Tahap prasyarat tinggal landas ini mempunyai 2 corak. Pertama adalah tahap prasyarat lepas landas yang dialami oleh negara-negara Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika, dimana tahap ini dicapai dengan perombakan masyarakat tradisional yang sudah lama ada.
Corak yang kedua adalah tahap prasyarat tinggal landas yang dicapai oleh negara-negara yang born free (menurut Rostow) seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, dimana negara-negara tersebut mencapai tahap tinggal landas tanpa harus merombak system masyarakat yang tradisional. Hal ini disebabkan oleh sifat dari masyarakat negara-negara tersebut yang terdiri dari imigran yang telah mempunyai sifat-sifat yang dibutuhkan oleh suatu masyarakat untuk tahap prasyarat tinggal landas. Seperti telah diungkapkan di muka, Rostow sangat menekankan perlunya perubahan- perubahan yang multidimensional, karena ia tak yakin akan kebenaran pandangan yang menyatakan bahwa pembangunan akan dapat dengan mudah diciptakan hanya jika jumlah tabungan ditingkatkan. Menurut pendapat tersebut tingkat tabungan yang tinggi akan mengakibatkan tiangkat investasi tinggi pula sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi yang dicerminkan oleh kenaikan pendapatan nasional. Namun menurut Rostow pertumbuhan ekonomi hanya akan tercapai jika diikuti oleh perubahan-perubahan lain dalam masyarakat. Perubahan-perubahan itulah yang akan memungkinkan terjadinya kenaikan tabungan dan penggunaan tabungan itu sebaik-baiknya.
Perubahan-perubahan yang dimaksudkan Rostow misalnya kemampuan masyarakat untuk menggunakan ilmu pengetahuan modern dan membuat penemuan-penemuan baru yang bisa menurunkan biaya produksi. Disamping itu harus ada pula orang-orang yang menggunakan penemuan baru tersebut untuk memodernisir cara produksi dan harus didukung pula dengan adanya kelompok masyarakat yang menciptakan tabungan dan meminjamkannya kepada wiraswasta (entrepreneurs) yang inovatif untuk meningkatkan produksi dan menaikkan produktivitas. Singkatnya, kenaikan investasi yang akan menciptakan pembangunan ekonomi yang lebih cepat dari sebelumnya bukan semata-mata tergantung kepada kenaikan tingkat tabungan, tetapi juga kepada perubahan radikal dalam sikap masyarakat terhadap ilmu pengetahuan, perubahan teknik produksi, pengambilan resiko, dan sebagainya

Selain hal-hal di atas, Rostow menekankan pula bahwa kenaikan tingkat investasi hanya mungkin tercipta jika terjadi perubahan dalam struktur ekonomi. Kemajuan di sektor pertanian, pertambangan, dan prasarana harus terjadi bersama-sama dengan proses peningkatan investasi. pembangunan ekonomi hanya dimungkinkan oleh adanya kenaikan produktivitas di sektor pertanian dan perkembangan di sektor pertambangan. Menurut Rostow, kemajuan sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam masa peralihan sebelum mencapai tahap tinggal landas. Peranan sektor pertanian tersebut antara lain: pertama, kemajuan pertanian menjamin penyediaan bahan makanan bagi penduduk di pedesaan maupun di perkotaan. Hal ini menjamin penduduk agar tidak kelaparan dan menghemat devisa karena impor bahan makanan bisa dihindari; kedua, kenaikan produktivitas di sektor pertanian akan memperluas pasar dari berbagai kegiatan industri. Kenaikan pendapatan petani akan memperluas pasar industri barang-barang konsumsi, kenaikan produktivitas pertanian akan memperluas pasar industri-industri penghasil input pertanian modern seperti mesin-mesin pertanian dan pupuk kimia, kenaikan pendapatan di sektor pertanian akan menaikkan penerimaan pemerintah melalui pajak sektor pertanian dan kemajuan sektor pertanian akan menciptakan tabungan yang bisa digunakan sektor lain (terutama industri) sehingga bisa meningkatkan investasi di sektor-sektor lain tersebut.
Sementara itu pembangunan prasarana, menurut Rostow, bisa menghabiskan sebagian besar dari dana investasi. Investasi di bidang prasarana ini mempunyai 3 ciri yaitu tenggang waktu antara pembangunannya dan pemetikan hasilnya (gestation period) sangat lama, pembangunannya harus dilakukan secara besar-besaran sehingga memerlukan biaya yang banyak, dan manfaat pembangunannya dirasakan oleh masyarakat banyak. Berdasarkan sifatnya ini, maka pembangunan prasarana terutama sekali harus dilakukan pemerintah. Selain hal-hal yang diungkapkan di atas, Rostow juga menunjukkan bentuk perubahan dalam kepemimpinan pemerintahan dari masyarakat yang mengalami transisi. Untuk menjamin terciptanya pembangunan yang teratur, suatu kepemimpinan baru haruslah mempunyai sifat nasionalisme yang reaktif (reactive nationalism) yaitu bereaksi secara positif atas tekanan- tekanan dari negara maju. Rostow yakin bahwa tanpa adanya tekanan atau hinaan dari negara-negara maju, modernisasi yang terjadi tidak akan secepat yang terjadi sekarang ini

Tahap Tinggal Landas
Pada tahap tinggal landas, pertumbuhan ekonomi selalu terjadi. Pada awal tahap ini terjadi perubahan yang drastis dalam masyarakat seperti revolusi politik, terciptanyakemajuan yang pesat dalam inovasi, atau berupa terbukanya pasar-pasar baru. Sebagai akibat dari perubahan-perubahan tersebut secara teratur akan tercipta inovasi-inovasi dan peningkatan investasi. Investasi yang semakin tinggi ini akan mempercepat laju pertumbuhan pendapatan nasional dan melebihi tingkat pertumbuhan penduduk. Dengan demikian tingkat pendapatan per kapita semakin besar.
Rostow mengemukakan 3 ciri utama dari negara-negara yang sudah mencapai masa tinggal landas yaitu:
1. Terjadinya kenaikan investasi produktif dari 5 persen atau kurang menjadi 10 persen dari Produk Nasional Bersih (Net National Product = NNP).
2. Terjadinyaperkembangan satu atau beberapa sektor industri dengan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi (leading sectors).
3. Terciptanya suatu kerangka dasar politik, sosial, dan kelembagaan yang bisa menciptakan perkembangan sektor modern dan eksternalitas ekonomi yang bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi terus terjadi. Disini juga termasuk kemampuan negara tersebut untuk mengerahkan sumber-sumber modal dalam negeri, karena kenaikan tabungan dalam negeri peranannya besar sekali dalam menciptakan tahap lepas landas. Inggris dan Jepang, misalnya mencapai masa tinggal landas tanpa mengimpor modal (bantuan luar negeri) sama sekali

Menurut Rostow, perkembangan sektor pemimpin (leading sector) berbeda-beda untuk setiap negara. Di Inggris, tekstil katun merupakan sektor pemimpin pada masa tinggal landasnya, sedangkan perkembangan jaringan jalan kereta api memegang peranan yang sama di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Kanada, dan Rusia. Di Swedia, sektor pemimpin adalah industri kayu, di Jepang sutera, dan Argentina adalah industry substitusi impor barang-barang konsumsi. Berdasarkan pada kenyataan tersebut, Rostow mengambil kesimpulan bahwa untuk mencapai tahap tinggal landas tidak satu sektor ekonomipun yang baku untuk semua negara yang bisa menciptakan pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, suatu negara tertentu tidak bisa hanya sekedar mencontoh pola perkembangan sektor pemimpin negara-negara lain. Namun demikian, ada 4 faktor penting yang harus diperhatikan dalam menciptakan sektor pemimpin yaitu:
1. Harus ada kemungkinan untuk perluasan pasar bagi barang-barang yang diproduksi yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang dengan cepat.
2. Dalam sektor tersebut harus dikembangkan teknik produksi yang modern dan kapasitas produksi harus bisa diperluas.
3. Harus tercipta tabungan dalam masyarakat dan para pengusaha harus menanamkan kembali keuntungannya untuk membiayai pembangunan sektor pemimpin.
4. pembangunan dan transformasi teknologi sektor pemimpin haruslah bisa menciptakan kebutuhan akan adanya perluasan kapasitas dan modernisasi sektor-sektor lain.

Tahap Menuju Kekedewasaan
Tahap menuju kedewasaan ini diartikan Rostow sebagai masa dimana masyarakat sudah secara efektif menggunakan teknologi moderen pada hampir semua kegiatan produksi. Pada tahap ini sektor-sektor pemimpin baru akan muncul menggantikan sektor-sektor pemimpin lama yang akan mengalami kemunduran. Sektor-sektor pemimpin baru ini coraknya ditentukan oleh perkembangan teknologi, kekayaan alam, sifat-sifat dari tahap lepas landas yang terjadi, dan juga oleh kebijaksanaan pemerintah. Rostow menaksir masa dimana tahap menuju ke dewasaan dicapai oleh beberapa negara seperti tampak pada Tabel 3.2. Dalam menganalisis karakteristik tahap menuju ke kedewasaan, Rostow menekankan analisisnya kepada corak perubahan sektor-sektor pemimpin di beberapa negara yang sekarang sudah maju. Ia juga menunjukkan bahwa di tiap-tiap negara tersebut jenis-jenis sektor pemimpin pada tahap sesudah tinggal landas adalah berbeda dengan yang ada pada tahap tinggal landas. Di Inggris, misalnya, industry tekstil yang telah mempelopori pembangunan pada tahap tinggal landas telah digantikan oleh industri besi, batu bara dan peralatan teknik berat. Sedangkan di Amerika Serikat, Perancis, dan Jerman di mana pembangunan jaringan jalan kereta api memegang peranan penting pada tahap tinggal landas, telah digantikan oleh industri baja dan industri peralatan berat pada tahap menuju ke kedewasaan. Selanjutnya Rostow mengemukakan pula karakteristik non-ekonomis dari masyarakat yang telah mencapai tahap menuju ke kedewasaan sebagai berikut:
1. Struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan. Peranan sektor industry semakin penting, sedangkan sektor pertanian menurun.
2. Sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami perubahan. Peranan manajer profesional semakin penting dan menggantikan kedudukan pengusaha-pemilik.
3. Kritik-kritik terhadap industrialisasi mulai muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap dampak industrialisasi

Tahap Konsumsi Tinggi
Tahap konsumsi tinggi ini merupakan tahap terakhir dari teori pembangunan ekonomi Rostow. Pada tahap ini perhatian masyarakat telah lebih menekankan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat bukan lagi kepada masalah produksi.
Pada tahap ini ada 3 macam tujuan masyarakat (negara) yaitu:
1. Memperbesar kekuasaan dan pengaruh ke luar negeri dan kecenderungan ini bisa berakhir pada penjajahan terhadap bangsa lain.
2. Menciptakan negara kesejahteraan (welfare state) dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang lebih merata melalui sistem pajak yang prog resif.
3. Meningkatkan konsumsi masyarakat melebihi kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan) menjadi meliputi pula barang- barang konsumsi tahan lama dan barang-barang mewah.

Kesimpulan
Sejarah modernitas di mulai dengan adanya virus Need For Acheivment, kebutuhan untuk dihargai. Di mana manusia mulai mengaktualisasikan dirinya di dalam kerja. Pada tataran ini yang di cari bukan hanya profit tetapi juga bagaimana manusia dapat memperoleh kepuasaan diri. Kebutuhan untuk di hargai inilah yang kemudian memberikan pengaruh kepada dinamika perubahan politik di Negara-negara berkembang dan Negara-negara maju. Karena modernitas berkontribusi dalam perubahan politik di Negara bekembang dan maju, elemen yang coba di lihat oleh Rostrow adalah elemen ekonomi. Dimana elemen ekonomi ini secara tidak langsung mempengaruhi dinamika politik. Hingga akhirnya dapat di lihat, bahwa semakin modern suatu Negara semakin kompleks dan dinamislah perubahan dan partisipasi politik di Negara tersebut
Aspek modernitas menjadi hal yang sangat penting untuk di lihat mengingat teori ini telah berpengaruh pada seluruh masyarakat dunia. Upaya memahami perubahan politik dalam konteks modernitas menjadi rujukan yang penting untuk menjawab berbagai permasalahan di dunia. Khusunya dalam kontekas partisipasi politik warga negara, utamanya dalam kesempatan dan distribusi kekuasaan. Modernitas menjanjikan sebuah kesempatan yang sama bagi semua pihak untuk melakukan kompetisi yang sebebas-bebasnya, namun pada sisi lain, persamaan kompetisi juga tidak di imbangi dengan kesempatan dan distribusi kekuasaan yang sama pada tataran masyarakat suatu Negara.
Oleh sebab itu, refleksi dari modernitas adalah bagaimana partisipasi dalam politik ini dapat berdampak langsung dan berkontibusi positif dalam peubahan politik sehingga semua elemen dalam masyarakat pun dapat terwakili sebagai bagian dari suatu Negara. Sekaligus, ketika pentahapan menuju masyarakat modern harus di kritisi secara lebih mendalam agar jangan terjadi kesenjangan dan ketidakadilan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain ketika semua berlomba untuk mendapatkan kepuasaan Need For Acheivment menuju modernitas yang sejatinya di harapkan dapat memberi perubahan bukan ketertindasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s